Posted by: Bocah Tulungagung | December 23, 2010

Gunung Kelud

Gunung Kelud orang mengenalnya, dari cerita turun temurun, Gunung Kelud lahir dari sebuah penghianatan. Dewi Kalisuci, putri yang cantik jelita, berasal dari Jenggolo Manik. Karena parasnya yang aduhai, dua orang raja jatuh hati terhadapnya dan kedua raja tersebut berlomba untuk dapat menyunting sang putri Dewi Kalisuci.

Sayang seribu kali sayang, Kedua raja tersebut bukan manusia normal, yang satu berkepala sapi dan satu lagi berkepala kerbau. Yang berkapala sapi bernama Lembu Suro dan yang berkepala kerbau bernama Maheso Suro.

Dewi Kalisuci yang terkenal cantik pun menolak jika harus mempunyai pendamping yang berkepala binatang, Penolakanpun dilakukan secara halus, Sang puteri membuat sebuah sayembara. Kedua raja tersebuat harus membuat sebuah sumur di puncak Gunung Kelud dalam waktu satu hari dengan catatan harus selesai sebelum ayam berkokok. Sumurnya pun sangat aneh, yang satu harus berbau amis sedang sumur yang satu lagi harus ber aroma wangi, siapa yang bisa memenuhi syarat tersebut barulah sang putri bersedia di lamar.

Berhubung kedua raja mempunyai kesaktian yang luar biasa, permintaan tersebut mudah dilakukan, dan sebelum matahari terbit pekerjaan membuat sumur telah selesai dikerjakan sesuai dengan permintaan sang puteri, sang puteripun kebingungan, dia pun mengajukan syarat kedua, yaitu untuk membuktikan apakah betul sumur yang dibuat benar-benar amis dan wangi, karna sumur-sumur tersebut sangat dalam maka sang raja sendiri yang harus masuk dan mencium baunya.

Ke dua rajapun terperdaya dan menyanggupi, mereka pun terjun kedalam sumur yang dibuatnya sendiri, setelah sang raja masuk kedalam, langsung saja sang puteri memrintahkan Prajurit Jenggala untuk menimbun kedua sumur dengan batu-batu dan mengubur hidup-hidup ke dua raja tersebut.

Meskipun sakti, kedua raja tersebut akhirnya mati, sebelum tiada Raja Lembu Suro sempat berucap sumpah:

“Orang di Kerajaan Kediri akan dikutuk, Kediri akan jadi Sungai, Blitar akan jadi daratan dan Tulung agung akan jadi danau”

Seperti yang orang ketahui: Kediri, Blitar dan Tulungagung merupakan daerah-daerah yang berhubungan dengan Dewi Kalisuci.  Sampai sekarang tradisiLarung Sesaji setiap tanggal 23 bulan Suro masih dilakukan oleh masyarakat sekitar tujuannya adalah sebagai tolak bala atas sumpah dari Lembu Suro.

Terlepas dari benar apa tidaknya legenda tersebut, tetapi  kisah ini merupakan bagian cerita rakyat jawa timur yang akan terus melegenda,  satu dari ribuan dongeng masa kecil yang telah terlupakan tergerus oleh perkembangan waktu dan jaman.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: