Posted by: Bocah Tulungagung | December 23, 2010

Pendidikan dan Tradisi Membaca Umat Islam

Suatu hari ada seorang alumni Al Khoirot bertanya pada saya, mungkinkah Islam mencapai masa keemasan (Islamic Golden Age) seperti dulu? Yang dimaksud dengan masa keemasan Islam adalah masa antara pertengahan abad ke-8 sampai ke-14 masehi atau abad ke-2 sampai ke-8 hijriah.

Era keemasan Islam adalah periode aktivitas keilmuan yang tak tertandingi di segala bidang: sains, teknologi, dan literatur, khususnya biografi, sejarah, dan linguistic. Sebagai contoh, para sarjana dan intelektual, dalam mengumpulkan dan menguji hadits Nabi, telah mengoleksi sejumlah besar informasi terkait dengan pribadi Nabi dan informasi lain seputar sejaah dan bahasa pada masa Nabi.  Dari riset luar biasa itu maka muncullah karya-karya monumental seperti Sirah Rasulillah, ”Kehidupan Nabi,” oleh Ibnu Ishaq, yang kemudian direvisi oleh Ibnu Hisham. Buku ini adalah salah satu karya sejarah Arab, Islam dan kehidupan Nabi paling awal yang menjadi rujukan utama karya-karya setelahnya.

Pada masa inilah para seniman, insinyur, sarjana, filsuf, geografer dan pengusaha memainkan peran penting di bidang pertanian, seni, ekonomi, industri, hukum, sastra, navigasi, filsafat, sains, sosiologi, teknologi, baik dengan cara memelihara tradisi-tradisi lama maupun dengan menambahkan inovasi dan penemuan-penemuan mereka sendiri.

Islam Saat Ini
Kejayaan Islam di segala bidang itu menjadi kenangan masa lalu. Umat Islam dalam abad-abad terakhir berada dalam posisi yang tidak beruntung. Mereka menjadi mayoritas di negara-negara berkembang yang menjadi negara-negara jajahan bangsa-bangsa Eropa dan baru merdeka sebagai negara berdaulat pada 1940-an ke atas.

Kenyataan  bahwa negara-negara Islam baru merdeka beberapa dekade ini sangat berdampak buruk pada banyak hal, dua yang terpenting dan relevan dengan tulisan ini adalah:

Pertama, kemiskinan. Hampir semua negara yang baru bebas dari penjajahan, baik negara mayoritas Islam atau Kristen,  mendapat predikat sebagai negara berkembang (developing), terbelakang (under-developed)atau negara ketiga (third world). Artinya, negara miskin.  Kemiskinan suatu negara berdampak pada kemiskinan rakyatnya.

Kedua, pendidikan. Negara dan bangsa yang miskin memiliki prioritas yang berbeda dibanding negara maju (developed). Pendidikan yang setinggi-tingginya bukanlah prioritas orang tua di negara miskin. Bagaimana mungkin pendidikan menjadi prioritas, kalau hal yang paling fundamental dalam hidup, yaitu sandang, pangan dan papan masih belum atau sulit terpenuhi?

Rendahnya dan tidak meratanya pendidikan berdampak pada banyak hal-hal negatif lain seperti minimnya minat dan kebiasaan membaca, lemahnya wawasan, tidak adanya spirit penelitian, kurangnya kedewasaan berfikir dan toleransi antar kelompok, lemahnya disiplin, meningkatnya pengangguran, dan lain-lain.

Level Pendidikan dan Kesejahteraan

Seperti disinggung di muka, kondisi kaya-miskin berpengaruh erat pada pendidikan dan level pendidikan yang dicapai. Sekedar ilustrasi, di negara maju seperti Amerika Serikat (AS), 85 persen penduduknya sudah menyelesaikan SLTA dan 27 persen tamat sarjana S1 atau lebih. Bandingkan dengan Indonesia di mana menurut data tahun 2007 terdapat 20,63 persen lulusan SLTA dan hanya 6,58 persen lulusan perguruan tinggi.  Data untuk Indonesia sebenarnya mewakili realitas yang ada di negara-negara berkembang lain yang penduduknya beragama Islam.

Seperti diketahui, tinggi-rendahnya level pendidikan terkait erat dengan tinggi-rendahnya penghasilan walaupun hal ini bukan satu-satunya parameter. Dari sini terjadilah apa yang disebut dengan lingkaran setan(vicious cycle): pendidikan rendah karena orang tua miskin,  tercipta orang miskin baru, anak dari orang miskin yang baru tingkat pendidikannya rendah juga, dan seterusnya.

Meningkatkan Taraf Pendidikan Kaum Dhuafa

Untuk menyetop lingkaran setan kemiskinan dan meningkatkan level pendidikan kaum miskin di negara berkembang, maka diperlukan usaha pihak ketiga. Pihak ketiga ini dapat berupa negara atau pemerintah, perusahaan-perusahaan besar, lembaga pendidikan dan para hartawan yang peduli dengan sesamanya.

Pemerintah dalam hal ini sudah melakukan perannya walaupun belum maksimal seperti diluncurkannya dana BOS (Biaya Operasional Sekolah) pada 2005 bersamaan dengan wajib belajar 9 tahun. Artinya, dari SD sampai SMP didanai pemerintah. Dan sejak 1978 meningkatnya anggaran pendidikan menjadi 20 persen (yang asalnya 10 persen) dari dana APBN. Adalah sangat ideal  kalau program wajib belajar  tidak hanya 9 tahun, tapi 16 tahun atau sampai sarjana S1.

Perusahaan-peruhaan besar saat ini juga memainkan perannya dengan memberikan beasiswa pada kalangan pelajar dan mahasiswa yang kurang mampu dengan program yang dikenal dengan CSR (Corporate Social Responsibility) atau tanggung jawab sosial perusahaan. Lembaga-lembaga pendidikan juga memiliki program beasiswa bagi siswa tidak mampu agar mereka tetap memiliki harapan, peluang dan masa depan yang sama .

Tradisi memberikan beasiswa atau membiayai sekolah anak miskin tampaknya belum terbiasa dilakukan kalangan individu hartawan di Indonesia. Kelompok hartawan kelas menengah ke bawah cukup banyak di Indonesia. Kalau seandainya setiap individu dari kelompok ini berkemauan untuk membiayai satu anak miskin saja sampai tingkat S1, tentu ini berdampak luar biasa bagi yang anak yang dibantu dan bagi masa depan bangsa ini dalam jangka panjang.

Tradisi Membaca

Apabila pendidikan meningkat, maka tradisi membaca juga meningkat. Sebuah penelitian yang diadakan oleh Naitonal Center for Education Statistics (CES), Amerika,  menyatakan bahwa kebiasaan membaca itu identik dengan pancapaian pendidikan: semakin tinggi level pendidikan seseorang, semakin senang ia membaca koran, majalah, buku setiap hari.

Memang, ciri khas dari negara dan bangsa maju adalah tradisi membaca rakyat yang tinggi. Gemar membaca, hobi membeli dan mengoleksi buku adalah suatu fenomena yang mudah dilihat di negara-negara maju. Tradisi membaca bisa dilihat dari kalangan turis bule yang datang ke Indonesia di mana mereka umumnya menggunakan waktu luangnya dengan membaca, baik saat berada dalam bus, kereta api, atau sedang antri.

Menurut CES, 57 persen warga Amerika dengan taraf pendidikan SLTA dan S1 membaca buku setiap hari.  Tradisi membaca buku yang tinggi di AS dan negara-negara maju yang lain seperti Inggris, Jepang,  persis dengan yang terjadi pada zaman keemasan Islam.

Tradisi membaca buku di Indonesia bisa dilihat dari data jumlah buku yang diterbitkan setiap tahunnya yang ternyata paling rendah di Asia yaitu hanya sekitar 8.000 judul buku per tahun. Bandingkan dengan Malaysia yang menerbitkan 15.000 judul/tahun, Vietnam 45.000 judul/tahun, sedangkan Inggris menerbitkan 100.000 judul/tahun.

Minimnya tradisi membaca di Indonesia bisa juga dilihat dari seberapa banyak kalangan terdidik, seperti para guru dan dosen, yang berlangganan koran, majalah dan memiliki koleksi buku. Begitu juga, kalangan hartawan di perkotaan, apalagi di pedesaan, lebih suka mengoleksi barang-barang antik mahal dan barang pecah belah di lemari ruang tamunya daripada memamerkan buku. Buku belum menjadi koleksi kebanggaan di Indonesia termasuk di kalangan yang cukup terdidik.

Padahal banyaknya informasi yang dibaca akan berdampak positif langsung pada sikap toleransi dan kearifan setiap individu pada kelompok lain yang tidak sepaham. Banyak konflik terjadi karena minimnya informasi dan keilmuan dari masih-masing pihak sehingga cuma mengandalkan informasi dari patron (tokoh yang dihormati).

Kesimpulan

Dari ulasan singkat ini dapat disimpulkan bahwa kebangkitan Islam dapat dicapai dengan meningkatnya kualitas pendidikan setiap individu muslim. Semakin tinggi dan merata level pendidikan, semakin terbuka pintu menuju era kebangkitan Islam.  Kebangkitan Islam yang berkelanjutan tidak dapat dicapai dengan senjata, perilaku intoleransi dan kebanggaan kelompok (eksklusivisme) yang sempit.  Sikap intoleransi membuat umat Islam mudah dipecahbelah provokator selama ratusan tahun. Umat yang ingin maju harus belajar dari kesalahan sejarahnya sendiri. Bukan mengulanginya berkali-kali.

Bibliografi:

1. Barro, RJ and JW Lee (1993), “International Comparisons of Educational Attainment”, Journal of Monetary Economics, 32:363-394.

2. Biro Pusat Statistik, 2009.

3. Howard R. Turner (1997), Science in Medieval Islam, hlm. 270,  University of Texas Press.

4. Personal income and educational attainment, US Census Bureau, 2006.

5. Jean Bird (1993) Young Teenage Reading Habits: A Study of the Bookmaster Scheme, Longwood Pr Ltd.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: