Posted by: Bocah Tulungagung | December 25, 2010

KISAH MBAH KUMBANG PENGUKIR MASJID AGUNG DAN PENDOPO TULUNGAGUNG

Di setiap kabupaten, tak terkecuali Kabupaten Tulungagung, pasti memiliki tokoh- tokoh lokal yang mempunyai jasa tertentu terhadap daerahnya. Tokoh tersebut biasanya diuri- uri (dilestarikan) keberadaannya oleh masyarakat sekitar dimana tokoh tersebut dimakamkan. Cara masyarakat melestarikan sang tokoh biasanya membangun, menjaga dan membersihkan makamnya. Ada kalanya mengenang semua peristiwa yang pernah dilakukan oleh sang tokoh kemudian diceriterakan secara lesan kepada generasi berikutnya. Bahkan tidak sedikit yang membuat cerita- cerita baru sekedar untuk meyakinkan kehebatan sang tokoh kepada orang lain.
Kalau kita sedang berada di lapangan Pasar Pahing (Lapangan Wira Mandala), barat terminal Tulungagung, di barat lapangan ada jalan ke utara. Berjalan ke utara sekitar 300 meter kemudian belok ke kanan 100 meter (ke timur) akan kita temukan sebuah makam kuno di dalam bangunan kecil di sebelah utara jalan. Makam tersebut adalah makamnya Mbah Kumbang.
Mbah Kumbang yang memiliki nama asli Imam Hambali tidak diketahui secara jelas asal usulnya dari mana. Nama Jawa beliau adalah Ki Mulyono. Beliau dimakamkan di Kelurahan Karangwaru Kecamatan Kota Tulungagung. Sampai saat ini makam Mbah Kumbang banyak dikunjungi oleh peziarah yang melakukan dzikir dan bacaan kalimat thoyyibah lainnya untuk mendoakan beliau. Sudah barang tentu kalau akan masuk ke makam Mbah Kumbang harus minta izin dahulu kepada Kaur Kesra (Modin) Kelurahan Karangwaru, karena yang memiliki tanggung jawab pemeliharaan makam Mbah Kumbang adalah Kelurahan Karangwaru yang secara teknis perawatannya diserahkan kepada Kaur Kesra dan Kaur Kesralah yang membawa kuncinya makam.
Mbah Kumbang oleh masyarakat Karangwaru dipercayai sebagai orang yang awal mula babat alas Karangwaru dan mengajar ngaji serta dakwah Islamiyah di Karangwaru dan sekitarnya sehingga Islam berkembang di Karangwaru sampai saat ini. Oleh sebab jasa beliau inilah makam Mbah Kumbang pernah dibangun oleh bapak H. Yamani dan sampai sekarangpun jika ada perbaikan makam keluarga bapak H. Yamani selalu dilibatkan. Beliau mendapat julukan (panggilan) Mbah Kumbang karena kalau tadarus (membaca) Al Qur’an atau berdoa suaranya gembremeng ( berdengung) seperti suara kumbang yang sedang terbang. Namun ada juga yang menyatakan beliau mendapat julukan Mbah Kumbang karena keahliannya membuat ukir- ukiran kayu. Mbah Kumbang kalau mengukir kayu , dalam membuat lekuk-an- lekuk-an (lengkung) , kedalaman pahatan, kerumitan, kehalusa dan tipenya mirip bagaikan se-ekor kumbang.
Sesuai daftar silsilah yang terdapat di makam Mbah kumbang, beliau keturunan ke 9 dari Ibrahim Asmarakundi. Silsilah tersebut lebih lengkapnya sebagai berikut:
1. Ibrahim Asmarakundi.
2. Raden Rahmat (Sunan Ampel).
3. Syarifuddin (Raden Kosim/ Sunan Drajad)
4. Umayah
5. Anim
6. Djamus
7. Ma’ruf
8. Dja’far
9. Rohmat
10. Imam Hambali (Mbah Kumbang)
Jasa- jasa beliau disamping telah babat alas di Karangwaru dan berdakwah Islamiyah, beliaulah yang telah membuat hiasan berupa ukir- ukiran masjid Agung Kabupaten Tulungagung yang dibangun tahun 1847 pada masa kadipaten Ngrowo dijabat oleh RMT. Djajaningrat, Adipati (bupati) Ngrowo ke 5 (1831- 1855). Sekarang masjidnya dipindah di Dusun Gleduk Desa Gedangsewu Tulungagung, tepatnya di pondok pesantren almarhum bapak H. Mashuri. Mbah Kumbang, disamping telah membuat ukir- ukiran masjid Agung Tulungagung, beliaulah yang telah membuat ukir- ukiran pendopo Kabupaten Tulungagung yang dibangun tahun 1824 pada masa Kadipaten Ngrowo dijabat oleh RMT. Pringgodiningrat, Adipati (Bupati) Ngrowo ke 4 (1824- 1830) . Pendopo Kabupaten Tulungagung tersebut sekarang sudah mengalami beberapa kali renovasi dan diberi nama “ Kongas Arum Kusumaning Bongso”. Nama tersebut menunjukkan suryo sengkolo tahun pembuatan/ renovasi pendopo, yaitu kongas= 0, arum= 9, kusuma= 9 dan bomngso=1. Dibaca terbalik menjadi 1990 .M. Yang memberi nama pendopo dan alun- alun Tulungagung adalah Bapak Ema Kusmadi, budayawan Jawa Tulungagung.
Walaupun masa kehidupan Mbah Kumbang tidak dapat ditelusuri secara pasti; kapan lahir, kapan meninggal , kapan babat alas dan dengan siapa saja, siapa istrinya dan siapa anaknya, namun karena beliau orang yang telah membuat ukir- ukiran masjid dan pendopo Kabupatena Tulungagung, maka dapat dipastikan beliau hidup pada abad 18, antara tahun 1824 -1855 . Menurut penuturan Kaur Kesra Karangwaru yang diperoleh dari berita – berita masyarakat sebelumnya, semua alat- alat pertukangan dalam membuat ukir- ukiran pendopo maupun masjid ditanam dekat makam beliau, tepatnya di timurnya.
Ada cerita yang menyatakan bahwa Mbah Kumbang sangat akrab dengan Mbah Langkir yang makamnya ada di dekat masjid Desa Winong. Kalau dilihat tahun kehidupan antara Mbah Kumbang dengan Mbah Langkir memang berdekatan. Mbah langkir hidup di Kadipaten Ngrowo setelah perang Diponegoro ( 1825- 1830 ). Mbah Langkir salah seorang mantan prajurit Pangeran Diponegoro yang melarikan diri ke Kadipaten Ngrowo setelah Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Makasar. Apalagi domisili Mbah Langkir ketika masih hidup di sekitar perempatan selatan alun- alun Tulungagung, dekat dengan desa Karangwaru tempat domisili Mbah Kumbang. Disamping itu keduanya sama- sama terkenal sebagai tokoh spiritual pada masanya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: