Posted by: Bocah Tulungagung | January 14, 2011

KESADARAN PANCA INDERA

Duduk tenang tak bergerak.

Nafas dihayati.

Fikiran memeriksa semua organ

agar seluruh organ rileks.

Berada dalam ketenangan.

Memasuki kedamaian.

Begitu kurang lebih deskripsi seseorang yang akan melakukan meditasi. Apa yang dilakukan selanjutnya sudah kita bahas pada tulisan saya yang pertama, Mengenal Meditasi. Selanjutnya, masing-masing akan memiliki pengalaman meditasi yang berbeda-beda. Dari pengalaman masing-masing itulah, kita bisa melakukan pembahasan lebih mendetail mengenai meditasi. Sebaiknya, bertanyalah kepada orang yang memang memiliki kemampuan akan hal itu. Mohonlah bimbingan kepada dia. Bimbingan akan sangat berguna dan mempermudah pemecahan soal-soal yang kita hadapi. Seseorang juga mungkin menemukan sendiri jalan meditasinya, namun tentu akan melewati try and error yang belum tentu kita bisa menyelesaikannya sendiri. Untuk sekedar pengetahuan, ada baiknya pula membaca buku-buku yang bersinggungan dengan meditasi.

 

Namun yang perlu disadari, pada akhirnya meditasi adalah pengalaman yang sifatnya pribadi. Meditasi yang dilakukan secara kolektif adalah suatu latihan untuk menambah semangat serta agar bisa dipantau oleh instrukturnya. Yang terjadi tentu saja pengalaman-pengalaman yang pribadi sifatnya. Memang ada benang merah yang semua orang mengalami dan bisa dirumuskan menjadi metoda, tapi pada pengembangan lebih jauh masing-masing orang tidak bisa disamaratakan karena pencapaian dan persoalan yang dihadapi tidak sama. Saat latihan, saya sering menemui peserta yang dengan mudah melakukan duduk rileks dan bisa mengikuti instruksi-instruksi. Yang begini bisa dikembangkan lebih jauh lagi. Tapi banyak pula yang lain yang baru beberapa menit saja sudah merasa tersiksa dengan anjuran posisi duduk yang terkesan ‘mengatur’ betul itu. Tentu harus pelan-pelan dan teliti dalam hal ini. Menghadapi yang susah-susah begini saya tak putus asa, sebab saya sendiri adalah orang yang awalnya juga lamban dan kaku. Kalau seorang rekan saya sudah sampai langkah 10, ibaratnya saya masih nol. Jadi payah sekali. Untungnya saya sejak dahulu memang tertarik dengan meditasi, sehingga ada semangat untuk mengatasinya.

 

Selain rileksasi, aktifitas lain yang bisa dikembangkan adalah meneliti pendengaran, penciuman, perabaan (kepekaan kulit), dan penglihatan. Sebenarnya ini sudah otomatis terjadi. Tetapi bisa juga dilakukan dalam ‘kesadaran’ kita.

 

Dengarkanlah seluruh suara sekitar dengan secermat-cermatnya. Semua suara. Yang dekat, yang jauh, yang keras, yang lirih, semua dengarkan dengan penuh tenang dan teliti. Dengan begitu kita sadar, sebetulnya banyak sekali suara apabila kita berkonsentrasi ke situ. Kalau ada daun yang jatuh, kita ’sadar’ bahwa itu juga menimbulkan suara. Kalau ada orang berjalan, kita ’sadar’ bahwa orang melangkah itu juga menimbulkan suara. Begitu seterusnya.

 

Ciumlah segala bau-bauan yang ada di sekeliling. Bau tanah, bau ruangan, bau tumbuhan, bau bunga, bau keringat, bau masakan, dan seterusnya. Wah, ternyata banyak sekali bau-bauan yang ada. Dalam sehari-hari kita tidak menyadari bahwa bau-bauan sebanyak itu. Baju kita saja kalau kita teliti berbeda-beda baunya menurut masing-masing bahannya.

 

Kepekaan perabaan bisa dilatih dengan merasakan sensasi angin, cahaya yang menimpa tubuh kita, getaran benda-benda, getaran suara-suara, dan sebagainya. Berilah kesempatan kepada seluruh permukaan kulit kita untuk mengakrabi getaran itu.

 

Latihan penglihatan bisa dilakukan tersendiri setelah meditasi duduk itu, dengan memandang segala sesuatu seteliti mungkin. Bisa dengan memandang panorama alam, di mana mata kita berkesempatan untuk menyaksikan keluasan, yang dalam sekali pandang bisa menangkap sekian benda dan sekian peristiwa. Latihan ini disebut meditasi memandang 180 derajat. Yang kita pandang tidak fokus, melainkan melebar. Ada yang melakukan sambil berdiri ada pula yang sambil duduk sebagaimana orang meditasi. Uniknya, jika kita melakukan teknik meditasi memandang 180 derajat ini dengan benar, nafas dada kita beralih menjadi nafas perut.

 

Kalau pengecapan bisa dilakukan dalam sehari-hari. Misalnya membedakan rasa makanan yang enak dan tidak enak. Nanti dulu. Pengertian ‘enak’ juga dipengaruhi oleh input data dari penglihatan. Karena itu banyak produk makanan yang menggunakan pewarna dan kemasan yang keren-keren. Biar terkesan lezat. Nah, dalam hal ini lidah harus obyektif. Memang sudah sewajarnya jika secara otomatis penglihatan kita bekerja dan memberi data, tetapi ia tidak boleh mendominasi. Kenyataannya, dalam sehari-hari panca indera kita kurang optimal bekerja karena didominir oleh penglihatan. Inilah salah satu alasan kenapa orang meditasi itu memejamkan mata, supaya mata tidak mendominir.Supaya indra yang lain berkesempatan bekerja secara optimal pula.

 

Menyadari optimalitas kerja panca indera sungguh penting. Sebab panca inderalah yang menjadi pintu masuk semua data pengalaman kita. Kadang seseorang memiliki kesulitan yang hebat dalam pergaulannya. Bisa jadi bukan karena sebab yang tetek-mbengek, melainkan—mungkin—cuma karena ia kurang mendengarkan sekelilingnya. Betapa kita semua tahu, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu mendengar bawahannya. Guru yang baik adalah guru yang mampu mendengar murid-muridnya. Dan demikian sebaliknya, pegawai yang baik adalah pegawai yang bisa mendengar pemimpinnya. Murid yang baik adalah murid yang mau mendengar gurunya.

 

Kalau seorang aktor kurang mendengar, wah, itu payah. Tak akan bisa ia menyimak lawan mainnya dengan baik. Kalau indra perabanya tidak sensitif, bagaimana bisa akting terkejut atau takut dengan baik? Terkejut atau takutnya pasti diada-adakan saja. Sebab ketakutan dan keterkejutan itu, getarannya pertama mula diterima oleh indra peraba. Janganlah heran kalau seorang samurai atau jago kungfu ketika ditebas lawannya dari belakang, dengan sigap ia bisa menghindarinya. Itu karena kepekaan indra perabanya sudah sangat terlatih.

 

Dalam konteks keaktoran meditasi merupakan suatu usaha menghayati bentuk-bentuk pengalaman. Bukan hanya pengalaman penglihatan saja, melainkan pengalaman pendengaran, perabaan, penciuman, pengecapan, bahkan pengalaman jantung, pengalaman darah, pengalaman syaraf-syaraf. Apabila Anda sedang bersedih, cobalah periksa bagaimana keadaan jantung, keadaan syaraf, keadaan darah, dan seterusnya. Tak hanya fikiran dan perasaan saja yang terlibat, tetapi seluruh organ juga turut menyatakannya. Kinerja organ ketika sedang sedih, sedang gembira, sedang marah, berbeda-beda tempo dan iramanya. Apabila terlatih meneliti dalam latihan meditasi, tentu akan memiliki sensitifitas yang lebih, karena kita bisa mengontrolnya. Maksudnya, semisal kita sedang sedih dan loyo, kita bisa melakukan revitalisasi dengan meditasi, sehingga badan kita menjadi rileks. Karena badan rileks, maka rileks pulalah fikiran kita, sehingga badan dan fikiran menjadi segar karenanya. Kondisi yang segar itu merupakan pintu masuk menuju suatu kejernihan. Inilah salah satu elemen yang penting dicapai dalam meditasi. Karena, hanya ketika kita sedang dalam suasana yang jernihlah kita bisa mengakses dan menyimpan aneka-ragam pengalaman manusia dengan maksimal. Bukan hanya itu saja. Melewati jalan meditasi, kita juga bisa menyaring dan membuang sampah-sampah pengalaman yang tidak berguna. Ibarat komputer, kita simpan file-file yang jelas berguna saja. Yang tidak penting kita delete, supaya tidak overload. Kalau overload tentu gampang error.

 

Komputer memiliki batas kapasitas penyimpanan sesuai dengan besarnya hardisc. Namun, dengan meditasi kapasitas penyimpanan seorang manusia bisa tak terhingga, karena pengalaman yang disimpan tidak menimbun, melainkan mengkristal. Kristalisasinya merupakan database yang bisa dibongkar kapan saja dan di mana saja. Oleh sebab itu ketika bermeditasi tulang punggung dianjurkan supaya lurus. Tulang punggung ini ibarat RAM nya, pengatur kecepatannya, karena di situ terdapat syaraf tulang sum-sum yang mengatur daya refleks manusia. Ia menerima sensasi-sensasi yang dengan secepat kilat disampaikan kepada otak yang berfungsi melakukan seluruh koordinasi badan kita. Wah, saya kira komputer tercanggih sekalipun tak ada yang bisa menandingi kecepatan kerja syaraf refleks manusia.

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: