Posted by: Bocah Tulungagung | January 18, 2011

Membangun dan Memelihara ESQ

Selama ini, sistem pendidikan kita selalu menekankan pentingnya nilai akademik, kecerdasan otak (IQ) saja. Mulai dari tingkat sekolah dasar sampai ke bangku kuliah, jarang sekali dijumpai pendidikan tentang kecerdasan emosi. Padahal, dari berbagai hasil penelitian telah banyak terbukti bahwa kecerdasan emosi memiliki peran yang jauh lebih significant dibanding kecerdasan intelektual (IQ). Kecerdasan otak (IQ) barulah sebatas syarat minimal meraih keberhasilan, namun kecerdasan emosilah yang seseungguhnya mengantarkan seseorang menuju puncak prestasi.

Ketika seseorang dengan kemampuan EQ dan IQ-nya berhasil mendaki kesuksesan, seringkali ia disergap oleh perasaan ’kosong’ dan hampa dalam celah batin kehidupannya. Setelah prestasi puncak telah dipijak, ketika semua pemuasan kebendaan telah diraih, setelah uang hasil jerih usaha berada dalam genggaman: ia tak lagi tahu ke mana harus melangkah; untuk tujuan apa semua prestasi itu diraihnya; hingga hampir-hampir diperbudak uang serta waktu tanpa tahu dan mengerti di mana ia harus berpijak. Di posisi inilah ESQ tampil menjawab permasalahan tersebut. ESQ sebagai sebuah metode dan konsep yang jelas dan pasti adalah jawaban dari kekosongan batin sang jiwa. Ia adalah konsep universal yang mampu menghantarkan seseorang pada ’predikat memuaskan’ bagi dirinya sendiri juga bagi sesamanya. ESQ pula yang dapat menghambat segala hal yang kontraproduktif terhadap kemajuan umat manusia.

Rahasia sukses membangun kecerdasan emosi dan spiritual berdasarkan The ESQ Way 165 :

  • 1 (satu) Hati (Value) yang ihsan pada God Spot
  • 6 (enam) Prinsip Moral berdasarkan Rukun Iman
  • 5 (lima) Langkah Sukses berdasarkan Rukun Islam

Tips Membangun dan Memelihara ESQ :

1.      Penjernihan Emosi (ZMP = Zero Mind Process)

  • Hindari selalu berprasangka buruk, upayakan berprasangka baik kepada orang lain
  • Berprinsiplah selalu kepada Allah Yang Maha Abadi
  • Bebaskan diri dari pengalaman-pengalaman yang membelenggu pikiran, berpikirlah merdeka!
  • Dengarlah suara hati, peganglah prinsip ”karena Allah”, berpikirlah melingkar, sebelum menentukan kepentingan dan prioritas
  • Lihatlah semua sudut pandang secara bijaksana berdasarkan semua suara hati yang bersumber dari Asmaul Husna (99 Thinking Hat)
  • Periksa pikiran terlebih dahulu sebelum menilai segala sesuatu, jangan melihat sesuatu karena pikiran, tetapi lihatlah sesuatu karena apa adanya
  • Janganlah terbelenggu oleh literaur-literatur, berpikirlah dengan merdeka, jadilah orang yang berhati ”ummi”.

2.      Hidupkan Cahaya Hati (God Spot)

Ada 7 nilai dasar ESQ (spiritual core values) yang diambil dari Asmaul Husna yang harus dijunjung tinggi sebagai bentuk pengabdian manusia kepada sifat Allah yang terletak pada pusat orbit (God Spot) :

  • Jujur, adalah wujud pengabdian manusia kepada sifat Allah, Al Mukmin
  • Tanggung Jawab, adalah wujud pengabdian manusia kepada sifat Allah, Al Wakiil
  • Disiplin, adalah wujud pengabdian manusia kepada sifat Allah, Al Matiin
  • Kerjasama, adalah wujud pengabdian manusia kepada sifat Allah, Al Jaami
  • Adil, adalah wujud pengabdian manusia kepada sifat Allah, Al Adl
  • Visioner, adalah wujud pengabdian manusia kepada sifat Allah, Al Aakhir
  • Peduli, adalah wujud pengabdian manusia kepada sifat Allah, Al Sami’ dan Al Bashir

3.      Mental Building

1. Star Principle (Prinsip Bintang)

Pikiran bukanlah sebuah wadah untuk diisi, melainkan api yang harus dinyalakan

a. Sumber suara hati

  • Bahwa suara hati manusia itu pada dasarnya bersifat universal, dengan catatan, manusia tersebut telah mencapai titik fitrah (God-spot) dan terbebas dari segala paradigma dan belenggu.
  • Anggukan yang membenarkan suara hati itu masih terus berjalan dan masih bisa dirasakan hingga saat ini. Kecuali suara hati yang tertutup.
  • Suara hati itu adalah dorongan dari sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Al Qur’an, seperti di dalam surat Al Hasyr ayat 22-24. Sebagai contoh, dorongan ingin keadilan, ingin bijaksana, ingin sejahtera, ingin memelihara, ingin menciptakan, ingin mengasihi, semua ini adalah sifat-sifat Allah. Inilah salah satu kunci kecerdasan emosi.

b. Bijaksana

Beberapa contoh sikap seseorang yang berusaha untuk bersikap bijaksana (99 Thinking Hats)

  • Dorongan ingin berkuasa, tidak bisa berdiri sendiri, harus juga suci, dan bersikaprahman dan rahim serta adil.
  • Dorongan ingin mencipta, juga tidak bisa berdiri sendiri, harus berhitung dan berilmu.
  • Dorongan ingin sejahtera, juga tidak bisa berdiri sendiri, harus suci, pemurah, terpercaya, dan terhormat.
  • Dorongan ingin bersikap kasih, juga tidak bisa berdiri sendiri, harus juga tegas, dan membela kebenaran.
  • Dorongan ingin mandiri, juga tidak bisa berdiri sendiri, harus terpercaya, kokoh, dan harus memulai suatu langkah.

Semua itu barulah sebagian kecil dari sembilan puluh sembilan sifat-sifat Allah yang merupakan sumber suara hati itu.

c. Integritas

d. Rasa aman

Rasa aman kita berasal dari pengetahuan bahwa, prinsip itu berbeda dengan pusat-pusat lain yang didasari pada orang atau sesuatu yang selalu dan seketika berubah, prinsip yang benar tidaklah berubah. Kita dapat memegang prinsip tersebut. Prinsip tidak bereaksi terhadap apa pun. Prinsip itu kekal, tidak peduli apa pun yang terjadi, tidak akan goyah meskipun kehilangan jabatan, harta, orang yang disayangi, kawan, ataupun penghargaan, bahkan penyiksaan.

e. Situasi terus berubah

Hanya dengan berpegang kepada Tuhanlah, yang sesungguhnya dapat menimbulkan rasa tenang dan aman. Rasa tenang dan aman itu sebenarnya akan menjernihkan pikiran, dan pikiran yang jernih akan mampu mengambil inisiatif-inisiatif yang sangat penting dan berharga, sekaligus memberikan kesiapan mental untuk menghadapi perubahan-perubahan yang pasti akan terjadi.

f. Kepercayaan diri

Harga dari sebuah kepercayaan diri dan keberanian yang tinggi akan dapat menimbulkan kepercayaan dari orang lain.

g. Intuisi

Suara hati seringkali membisikkan dan membimbing apa yang dirasa benar dan apa yang dirasa salah di masa sekarang di mana akhirnya benar-benar terbukti di masa akan datang

h. Sumber motivasi

Apabila manusia telah menyadari bahwa dirinya telah memiliki sifat-sifat yang diturunkan oleh Allah tersebut, maka upayakan dan pupuklah terus hingga menghasilkan sebuah kekuatan dan motivasi yang maha dahsyat.

Hasil star principle-prinsip bintang adalah kepemilikan rasa aman intrinsic, kepercayaan diri yang tinggi, integritas yang kuat, bersikap bijaksana, dan memiliki tingkat motivasi yang tinggi, semua dilandasi dan dibangun karena iman kepada Allah SWT.

2. Angel Principle (Prinsip Malaikat)

“Tiadalah mereka (malaikat) mendahului (-Nya) berbicara. Mereka (hanya) bertindak atas perintah”.

a. Keteladanan malaikat

Kepercayaan yang diberikan langsung oleh Tuhan, dan malaikat secara sungguh-sungguh mampu menjaga kepercayaan yang diberikan kepadanya, sehingga menjadi suatu kepercayaan yang abadi. Keteladanan yang bisa diambil dari sifat malaikat secara umum adalah kepercayaan yang dimilikinya, loyalitas dan integritasnya yang sangat mengagumkan.

b. Integritas dan loyalitas

Loyalitas adalah kesetiaan pada prinsip yang dianut. Integritas adalah bersikap jujur, konsisten, komitmen, berani, dan dapat dipercaya. Integritas muncul dari kesadaran diri terdalam, yang bersumber dari suara hati. Integritas tidak menipu dan tidak berbohong. Integritas tidak pamrih, dan integritas adalah berpegang pada sebuah prinsip. Yang diinginkan hanyalayah sebuah tepukan halus di pundak dari seorang malaikat. Integritas tidak mengharapkan ucapan terima kasih. Integritas hanya bersahabat dengan suara hati, suara Tuhan. Dan integritas hanya mengharapkan sebuah catatan kecil dari seorang malaikat yang berada pada bahu kanannya.

c. Kebiasaan memberi, mengawali dan menolongdengan mengucapkan Bismillah setiap kali akan melakukan suatu pekerjaan, artinya adalah melakukan sesuatu yang tidak akan merugikan orang lain. Efektifitas Bismillah adalah suatu investasi kepercayaan, karena merupakan prinsip yang mendahulukan memberi, bukan menunggu atau meminta. Sebuah aksi akan menghasilkan reaksi (pahala dan dosa). Prinsip memberi akan mengasilkan sesuatu. Dan salah satunya adalah energi kepercayaan.

d. Komitmen

Menyatakan janji adalah suatu pekerjaan yang sangat mudah. Menepati janji adalah suatu langkah emas yang bisa dilakukan untuk meraih kepercayaan yang sangat tinggi. Meskipun itu hanya sebuah janji kecil, hal itu sangat berpengaruh pada kredibilitas yang sudah dimiliki. Berjanji adalah sesuatu yang sangat penting, begitu pentingnya, maka mendapat perhatian sangat serius dari Tuhan.

e. Salam komitmen dan saling percaya

Ucapan salam harus datang dari niat untuk bersinergi dengan orang lain dengan prinsip bismillah, untuk menghasilkan sinergi hati. Apabila pelaksanaan sinergi belum terwujud, paling tidak sudah terjadi suatu empati tingkat dasar yang merupakan landasan untuk suatu hubungan saling percaya.

Hasil angel principle-prinsip malaikat adalah seseorang yang memiliki tingkat loyalitas tinggi, komitmen yang kuat, memiliki kebiasaan untuk mengawali dan memberi, suka menolong dan memiliki sikap saling percaya.

3. Leadership Principle (Prinsip Kepemimpinan)

Setiap orang dari kamu adalah pemimpin dan kamu bertanggung jawab terhadap kepemimpinan itu.

a. Paradigma yang keliru

Pada umumnya orang melihat pemimpin adalah sebuah kedudukan atau sebuah posisi semata. Akibatnya banyak orang yang mengejar untuk menjadi seorang pemimpin dengan menghalalkan berbagai cara dalam mencapai tujuan tersebut.

b. Semua orang adalah pemimpin

Ribuan orang mengharap dirinya untuk menjadi seorang pemimpin. Mereka tidak pernah merasa bahwa sebenarnya dirinya adalah seorang pemimpin. Ketidaksadaran inilah yang mengakibatkan orang tidak mau mengembangkan ilmu kepemimpinannya, ditambah dengan jargon-jargon seperti: ‘saya ini rakyat kecil’. Tidak ada istilah orang kecil, semua sama di mata Tuhan, sebagai seorang khalifah di muka bumi ini.

c. Pemimpin adalah pengaruh

Ketika orang lain memberikan sebuah nasehat atau sebuah cerita, kita akan mengingatnya, dan itu adalah pengaruh. Ketika seorang teman mengatakan tentang sesuatu dan sesuatu itu akan diingat, itu pun adalah pengaruh. Atau hal-hal kecil lainnya yang mempengaruhi kita dan berhasil mengubah hidup kita.

d. Tangga kepemimpinan

Tangga kepemimpinan itu adalah sebagai berikut:

Tangga 1 : pemimpin yang dicintai

Tangga 2 : pemimpin yang dipercaya

Tangga 3 : pembimbing

Tangga 4 Pemimpin yang berkepribadian

Tangga 5 : pemimpin yang abadi

Hasil leadership principle-prinsip kepemimpinan: pemimpin sejati adalah seorang yang selalu mencintai dan memberiperhatian kepada orang lain, sehingga ia dicintai. Memiliki integritas yang kuat, sehingga ia dipercaya oleh perngikutnya. Selalu membimbing dan mengajari pengikutya. Memiliki kepribadian yang kuat dan konsisten. Dan yang terpenting adalah memimpin berlandaskan atas suara hati yang fitrah.

4. Learning Principle (prinsip pembelajaran)

“(yaitu) orang yang berzikir memuji Allah sambil berdiri, duduk, dan (berbaring) di isinya, dan tentang penciptaan langit dan bumi:”Tihan kami, tiada sia-sia kau menciptakan ini semua! Maha Suci Engkau ! lingdungilah kami dari azab api (neraka)”

a. Bacalah

b. Mencari kebenaran

c. Perintah membaca

Ketika diturunkan wahyu Tuhan untuk pertama kalinya, yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW, Jibril berkata: “iqra” (bacalah). “Ma aqra?” (tetapi apa yang harus dibaca?) Tanya Nabi – pertanyaan itu tidak dijawab, karena Allah menghendaki agar beliau dan umatnya membaca apa saja, selama bacaan tersebut “Bismi Rabbika”, dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan. Perintah untuk “membaca” adalah langsung diturunkan oleh Tuhan. Membaca adalah awal mulanya suatu ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan keberhasilan manusia.

d. Berpikirlah krisis

Penekannan akan arti pentingnya berpikir dan belajar begitu sangat diutamakan oleh Allah. Karena hal inilah yang akan menyelamatkan manusia dari lembah kehancuran dan mampu mendorong manusia pada kemajuan peradaban. Begitu banyak “Baccaan” yang dapat kita pelajari di sekitar kita, bisa berupa kejadian-kejadian atau pengalaman-pengalaman dari kita sendiri atau dari orang lain, yang bisa ditarik untuk dijadikansuatu teladan, peringatan, kesimpulan, atau sebuah teori yang diperoleh dari berbagai disiplin ilmu, baik ilmu social, ilmu pasti, atau ilmu teologi (ketuhanan).

e. Evaluasi dan sempurnakan

setelah semua ilmu pengetahuan telah diserap dan kuasai, maka selanjutnya menyempurnakan lagi. Contoh: produksi mobil di Amerika Serikat umumnya berbentuk besar, berat, dan boros bahan baker. Oleh bangsa Jepang hal ini dibaca, diamati, dicermati, dievaluasi, dan pada akhirnya disempurnakan. Kemudian lahirlah industri mobil Jepang yang memproduksi mobil yang ringan , murah, dan hemat bahan baker. Seperti kita ketahui saat ini industri mobil Jepang bisa dikatakan telah menguasai sebagian besar pangsa jenis mobil sedan. Inilah contoh nyata dari suatu kebiasaan membaca, kebiasaan berpikir, dan kebiasaan mengevaluasi dan menyempurnakan. Allah meninggikan derajat bagi kaum yang senantiasa berpikir.

f. Pengaruh materi bacaan

Setiap bbacaan, kejadian, perkataan, perbuatan orang lain, dan sikap orang lain akan membekas pada diri sendiri, baik itu secara tidak disengaja atau memang sengaja. Begitu banyak paham-paham yang diajarkan oleh orang lain. Kita sangat dianjurkan untuk membaca berbagai buku, namun disarankan untuk tetap membaca Al Qur’an, sebagai penyeimbang, agar tetap memiliki pegangan yang kuat, dan tidak terjerumus pada pemikiran-pemikiran yang keliru.

g. Ilmu pengetahuan vs kebenaran

Melalui mekanisme yang jelas dan terarah, prinsip keilmuan yang ada dalam pikiran kita akan selalu terasah dan memiliki pencapaian yang tinggi. Ingatlah bahwa ilmu bergerak dari pembenaran dan sanggahan, berdasarkan logika dan bukti-bukti nyata. Kalau itu terjadi maka kita mampu menjadi sosok manusia yang tidak saja pekerja keras dan berprestasi, namun juga mampu mencari “karunia Allah” yang bertebaran di muka bumi, juga mampu menilai sesuatu, mengambil keputusan secara objektif berdasarkan prinsip-prinsip fitrah abadi, bukan karena pengaruh dan tuntutan lingkungan semata.

h. Salah satu mukizat Al Qur’an

Seperti diketahui, seringkali Al Qur’an turu secara spontan, guna menjawab berbagai pertanyaan atau mengomentari suatu peristiwa. Misalnya, pertanyaan orang yahudi tentang ruh. Pertanyaan ini dijawab secara langsung, namun demikian, setelah rampung diturunkan diturunkan dan disusun, kemudian dilakuakn analisa serta perhitungan terhadap catatan redaksinya, ditemukan hal-hal yang sangat menakjubkan. Ditemukan adanya keseimbangan yang sangat serasi antara kata-kata yang digunakan, seperti keserasian, atau jumlah dua kata yang bertolak belakang.

i. Al Qur’an sebagai pedoman

Al Qur’an memberikan petunjuk dan aplikasi dari kecerdasan emosi dan spiritual atau ESQ yang sangat sesuai dengan suara hati. Bahkan Tuhan menjelaskan secara rinci apa saja sumber-sumber suara hati itu beserta contoh-contoh nyata pelaksanaannya. Di dalam Al Qur’an, kecerdasan emosi ini dinamakan “akhlakul karimah”.

j. Kekuatan dan kesempurnaan Al Fatihah

Al Fatihah artinya adalah pembuka, penyembuh, pedoman, pemelihara, bekal, dan rasa syukur. Pujian kepada Allah yang diwujudkan di dalamnya, ini membangkitkan sumber-sumber suara hati yang merupakan pemberi informasi yang maha penting, dengan selalu mengingat Tuhan Yang Maha Agung. Inilah dasar dari segala dasar ESQ atau akhlak manusia. Al Fatihah merupakan suatu perwujudan dari sebuah harapan atau permohonan, yang bisa terus membantu kita untuk selalu teringat akan visi yang harus diraih. Inilah sebuah auto pilot di dalam diri kita.

Hasil learning principle-prinsip pembelajaran: memiliki kebiasaan membaca buku dan membaca situasi dengan cermat. Selalu berpikir kritis dan mendalam. Selalu mengevaluasi pemikirannya kembali. Bersikap terbuka untuk mengadakan penyempurnaan. Memiliki pedoman yang kuat dalam belajar, yaitu berpegang hanya kepada Allah SWT.

5. Visioner Principle (Prinsip Masa Depan)

Bahwa tiada yang orang dapatkan, kecuali yang ia usahakan? Dan bahwa usahanya akan kelihatan nantinya, kemudian ia pun mendapat ganjaran, balasan yang sempurna? Dan bahwa kepada Tuhanmu artinya kau kembali?”

a. Siapkan pondasinya

Prinsipnya yaitu pembangunan visi, tahap pembentukannya akan sangat tergantung pada kualitas kecerdasan hati yang terbentuk pada tahap sebelumnya. Visi yang akan dibangun sulit untuk berjalan dengan baik. Pada tahap ini kita dibangun suatu visi pada landasan yang goyah, atau bahkan visi yang keliru.

b. Orientasi jangka pendek

Lakukanlah pembaruan yang sangat menentukan bagi hidup kita, yang akan membuat “perbedaan”. Tentukan apa peran yang kita miliki, baik di keluarga, di kantor, di perusahaan atau di instalasi. Cobalah pikirkan hal-hal apa yang bisa dilakukan agar segalanya bisa lebih baik, yang belum sempat dilakukan. Perencanaan, kadangkala dilakukan dengan terlalu optimis, kurang perhitungan, atau sebaliknya terlalu berhati-hati sehingga tergiras oleh pesaing yang lebih agresif. Akibatnya merugi atau sebaliknya, semua itu harus dilakukan dengan bijaksana dan harus mendengar suara hati.

c. orientasi tujuan dan optimalisasi upaya

Visi tidak hanya berlaku untuk hal-hal yang berkaitan dengan harapan atau cita-cita jangka panjang saja, tetapi juga untuk hal-hal yang berkenaan dengan tindakan sehari-hari. Begitu banyak orang yang hanya berorientasi menyelesaikan pekerjaan semata-mata, bukan pada tujuan akhir. Hasilya akan tidak efektif. Ia kelihatan mengerjakan pekerjaan, namun waktu dan biaya habis terbuang, dan hasil yang diharapkan tidak tercapai. Mudah sekali orang mengatakan “Saya sudah berusaha namun saya tidak berhasil”, tanpa mau bersikap kreatif untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut hingga mencapai tujuan seperti yang diharapkan.

d. Orientasi jangka menengah

Begitu banyak orang yang merasa sudah mencapai harapan dan cita-citanya, atau boleh dikatakan sukses secara materi atau karier, baik kalangan pengusaha, kalangan professional, pejabbat, actor, politikus, atau profesi apa saja, tetapi mereka merasakan ada sesuatu yang “hampa”, dan ada sesuatu yang hilang. Banyak diantara mereka melarikan diri ke kelompok-kelompok tertentu untuk mencari “sesuatu yang hilang” tersebut. Umumnya mereka baru menyadari bahwa mereka telah menaiki tangga yang salah setelah mereka mencapai puncak. Ternyata pada akhirnya, uang, harta, kedudukan dan kehormatan, bukanlah sesuatu yang sebenarnya dan seharusnya mereka cari selama ini. Mereka masih harus mencari dan menemukan, bahwa masih ada tangga lain yang jauh lebih penting, yang sungguh-sungguh bisa menjawab harapan mereka.

e. Orientasi jangka panjang, kendali social dan ketenangan batiniah

Kesadaran akan “Hari Kemudian” adalah pusat dari segala integritas sekaligus pemenuhan akan dahaga batiniah. Suatu kesadaran bahwa segala tindakan dan hasilnya kelak dirancang untuk tidak berhenti hingga di dunia saja, tetapi juga hingga “Hari Keadilan” tiba. Teruslah berjuang dengan sebaik-baiknya karena siklus tidak hanya berhenti di sini. Masih ada siklus lanjutan

Kesadaran akan “Hari Kemudian” adalah suatu pusat rasa aman yang sesungguhnya, di mana setiap orang selalu menghadapi tekanan dari kondisi lingkungan yang terus berubah dengan cepat tanp-a bisa dikendalikan. Ia akan merasa aman dengan adanya janji Tuhan itu.

f. Siklus kehidupan dan jaminan masa depan

Siklus kehidupan diciptakan tiga kali. Siklus pertama adalah alam Dzuriah atau alam sebelum dunia. Siklus kedua adalah alam nyata, dan siklus ketiga adalah alam akhir atau kembali ke alam pertama. Inilah lingkaran siklus yang sesungguhnya atau life cycle.

g. Tiada keraguan

Pergunakanlah suatu metode histories untuk membuat suatu prediksi akan masa depan. Seperti layaknya sebuah proyeksi, data masa lalu dikumpulkan dan dianalisa kebenarannya, berdasarkan data masa lalu dan kondisi sini. Kemudian, bandingkan kenenarannya dengan Al Qur’an, niscaya kita akan terkesima dengan kebebaran sejarah dan kondisi saat ini. Semua terbukti benar adanya.

Hasil vision principle-prinsip masa depan: selalu berorientasi pada tujuan dalam setiap langkah yang dibuat. Melakukan setiap langkah secara optimal dan sungguh-sungguh. Memiliki kendali diri dan social, karena telah memiliki kesadaran akan adanya “Hari Kemudian”. Memiliki kepastian akan masa depan dan memiliki ketenagan batiniah yang tinggi, yang tercipta oleh keyakinan akan adanya “Hari Pembalasan”

6. Well Organized Principle (Prinsip Keteraturan)

Tiadakah kamu lihat, bahwa Allah menundukkan bagimu segala yang ada di langit, dan segala yang ada di bumi, dan melimpahkan atasmu nikmat-Nya, yang nampak maupun yang tiada nampak? Namun di antara manusia, ada orang yang bertengkar tentang Allah tanpa pengetahuan, tanpa bimbingan, dan tanpa kitab yang memberi penerangan!

a.   Mulailah dengan tujuan

b.  Semua melalui proses

c.  Bebaskan belenggu itu

d. Kepastian hkum alam

e.  System sinergi Allah

f.   Teladani system manajemen alam semesta

g.   Memelihara system

h.   Kendala utama

Hasil well organized principle-prinsip keteraturan: memiliki kesadaran, ketenangan dan keyakinan dalam berusaha, karena pengetahuan akan kepastian hukum alam dan hukum sosial. Sangat memahami akan arti penting sebuah proses yang harus dilalui. Selalu berorientasi pada pembentukan system (senergi), dan selalu berupaya menjaga system yang telah dibentuk.

Aplikasi mental building:

  1. Buatlah semuanya serba teratur dalam suatu system
  2. Tentukan rencana atau tujuan anda secara jelas
  3. Bagaimana organisasinya, dan factor-faktor pendukung lainnya. Jadikan dalam satu kesatuan yang harus dibangun dan dipelihara.
  4. Bagaimana system pengawasan dan kontrolnya agar sesuai dengan rencana?
  5. Laksanakanlah dengan sangat disiplin, karena kesadaran diri, bukan karena orang lain.

4.      Personal Strength

1. Mission Statement (Penetapan misi)

a. Kekuatan sebuah misi

b. Membangun misi kehidupam

c. Membulatkan tekad

d. Membangun visi

e. Menciptakan wawasan

f. Transfomasi visi

g. komitmen total

Hasil mission statement-penetapan misi: Syahadat membangun suatu keyakinan dalam berusaha. Syahadat akan menciptakan suatu daya dorong dalam upaya mencapai suatu tujuan. Syahadat akan membangkitkan keberanian dan optimisme, sekaligus menciptakan ketenangan batiniah dalam menjalankan misi hidup.

2. Character Building

a. Relaksasi

b. Membangun kekuatan afirmasi

c. Meningkatkan kecerdasan emosi dan spiritual (ESQ)

d. Membangun pengalaman positif

e. Pembangkit dan penyeimbang energi batiniah

f  Pengasahan prinsip

g. pelatihan ketangguhan sosial

Hasil character building-pembangunan karakter: Shalat adalah suatu metode relaksasi untuk menjaga kesadaran diri agar tetap memiliki cara berpikir yang fitrah. Shalat adalah suatu langkah untuk membangun kekuatan afirmasi. Shalat adalah sebuah metode yang dapat meningkatkan kecerdasan emosi dan spiritual secara terus menerus. Shalat adalah suatu teknik pembentukan pengalaman yang membangun suatu paradigma positif (New Paragigm Shift). Dan shalat adalah cara untuk terus mengasah dan mempertajam ESQ yang diperoleh dari Rukun Iman.

3. Self Controlling

a. Meraih kemerdekaan sejati

b. Memelihara god-spot

c. Mengendalikan suasana hati

d. Meningkatkan kecakapan emosi secara fisiologi

e. Pengendalian prinsip

f. Pelihara tata surya jiwa

Hasil self controlling-pengendalian diri: puasa adalah suatu metode pelatihan untuk pengendalian diri. Puasa bertujuan untuk meraih kemerdekaan sejati, dan pembesasan dari belenggu nafsu yang tak terkendali. Puasa yang baik akan memelihara asset kita yang paling berharga yaitu fitrah diri. Di samping tujuan puasa yang lainnya yaitu untuk mengendalikan suasana hati, maka tujuan puasa lainnya adalah untuk meningkatkan kecakapan puasa secara fisiologis, dan pelatihan untuk menjaga prinsip-prinsip yang telah dianut berdasarkan Rukun Iman.

5.      Social Strength

1. Strategic Colaboration (Sinergi)

”Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya, memberi nafkah menurut pemberian Allah kepadanya. Allah tiada membebani seseorang lebih dari apa yang Ia berikan kepadanya. Sesudah orang menderita kesukaran, Allah akan memberinya kelapangan”.

a. Investasi zakat

b. Pentingnya sinergi (Jama’ah)

c. Prinsip zakat dalam rukun iman

d. Garis orbit sinergi

Hasil strategic collababoration-sinergi: zakat adalah langkah nyata membagun suatu landasan yang kokoh guna membangun sebuah sinergi yang kuat, yaitu berlandaskan sikap empati, kepercayaan, sikap koperatif dan keterbukaan, serta kredibilitas.

2. Total Action (Total Action)

…Bawalah bekal, tetapi sebaik-baik bekal ialah takwa. Bertakwalah  kepada-Ku, hai orang yang menggunakan pikiran…

a)      Langkah zero mind process-ihram

b)      Pengasahan komitmen dan integritas-thawaf

c)      Pengasahan AQ (Adversity Quotient)-SA’I

d)      Evaluasi dan Visualitas-Wuquf.

e)      Hadapi tantangan-lontar jumrah

f)        Sinergi-Jama’ah Haji

g)      Qurban

h)      Ka’bah sebagai pusat jiwa

Hasil total action-aplikasi total: Haji adalah suatu transformasi prinsip dan langkah secara total (thawaf), konsistensi dan persistensi perjuangan (sa’i), evaluasi dari prinsip berpikiran dan cara dalam skala tertinggi, dan haji adalah persiapan fisik serta mental dalam menghadapi berbagai tantangan masa depan (lontar jumrah).

ESQ bagi Sumber Daya Manusia (Pemimpin)

a.       EQ (Emotional Quotient)

SDM yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi adalah sumber daya yang mampu mengendalikan diri, sabar, tekun, tidak emosional, tidak reaktif serta positive thinking. Untuk memperoleh EQ ini, seseorang harus melalui pendidikan sejak dini dengan contoh suri tauladan dari kedua orangtuanya. Seseorang dikatakan sehat jiwanya bila ia mampu mengendalikan dirinya terhadap dorongan-dorongan hawa nafsu dirinya sendiri, agar yang bersangkutan tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang merugikan diri sendiri atau orang lain.

SDM (pemimpin) dengan EQ yang tinggi, ia tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, lebih mengutamakan rasio daripada emosi, tidak reaktif bila mendapat kritik, tidak merasa dirinya pandai dan paling benar serta tawadlu (rendah hati) atau low profile.

Pemimpin ini termasuk tipologi manusia “orang yang tahu, dan tahu kalau dirinya tahu”. Dari pengamatan pengalaman di masyarakat dan di pemerintahan banyak SDM yang tidak saja tidak the right man in the right place, tetapi termasuk tipologi manusia “orang yang tidak tahu, dan tidak tahu kalau dirinya tidak tahu”.

SDM (pemimpin) dengan EQ yang tinggi mmepunyai sikap terbuka, transparan, akomodatif, konsisten (istiqomah), satu kata dengan perbuatan, menempati janji, jujur, adil dan berwibawa. Kewibawaannya ditegakkan dengan arif bujaksana, bukan dnegan power (kekuatan/kekuasaan). Pemimpin ini lebih mengutamakan kesejahteraan umum daripada kesejahteraan dirinya, berkorban demi kepentingan umum sertatidak mementingkan kepentingan dirinya sendiri (tidak egois) ; serta peduli terhadap penderitaan orang lain. Pemimpin memiliki budi pekerti luhur sehingga dapat menjadi tokoh panutan.

SDM (pemimpin) adalah seseorang yang mau berkorban untuk rakyatnya, dan bukan sebaliknya rakyat berkorban untuk dirinya. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT. Sebagaimana tercantum dalamn surat Al Kautsar ayat 1 dan 2 yang artinya :

Sesungguhnya kami memberikan kepada nikmat yang banyak, maka dirikanlah sholat untuk Tuhanmu dan berkorbanlah” (Q.S.Al Kautsar, 108:1 & 2).

Perkembangan EQ berhubungan erat dengan perkembangan kepribadian (personality development) dan kematangan kepribadian (maturity of personality). SDM dengan kepribadian yang matang (mature), dalam menghadapi dan menyelesaikan berbgai persoalan atau pekerjaan menggunakan kecerdasan intelektualnya (IQ) dan kecerdasan emosionalnya (EQ) secara proporsional.

Berkaitan dengan kepribadian yang matang (mature), maka pemimpin seyogyanya memilki EQ yang stabil, percaya diri (self confidence) dan bebas dari stress, cemas serta depresi.

Kecerdasan emosional (EQ) dapat terganggu apabila SDM yang bersangkutan mengkonsumsi Napza. Sebagaimana diketahui, orang yang mengkonsumsi Napza akan mengalami gangguan pada sinyal penghantar saraf, sel-sel saraf otak (neurotransmitter), yang mengakibatkan gangguan mental dan perilaku (mental disorder and behavior disorder). Salah satu akibatnya adalah gangguan afektif pada orang yang mengkonsumsi Napza, yaitu emosi labil, mudah marah dan tersinggung serta melemahnya fusngsi pengendalian diri (self control).

b.      SQ (Spiritual Quotient)

SD (pemimpin) dengan tingkat kecerdasan spiritual (SQ) yang tinggi adalah pemimpin yang tidak sekedar beragama, tetapi terutama beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Seorang yang beriman adalah orang yang percaya bahwa Tuhan itu ada, Maha Melihat, Maha Mendengar dan Maha Mengetahui apa-apa yang diucapkan diperbuat bahkan isi hati atau niat manusia. Pemimpin dapat membohongi rakyatnya tetapi tidak dapat membohongi Tuhannya.

Selain daripada itu pemimpin yang beriman adalah seseorang yang percaya adanya Malaikat, yang mencatat segala perbuatan yang baik maupun yang tercela dan tidak dapat diajak kolusi. Tipe pemimpin ini tahu mana yang baik dan mana yang buruk, man ayang benar dan mana yang salah, mana yang halal dan mana yang haram dan mana yang melanggar hukum dan mana yang sesuai dengan hukum.

Pemimpin tipe ini selalu memegang amanah, konsisten (istiqomah) dan tugas yang diembannya merupakan ibadah terhadap Tuhan. Oleh karena itu semua sikap, ucapapan dan tindakannya selalu mengacu kepada nilai-nilai moral etika agama, selalu memohon taufiq dan hidayah Allah SWT, dalam melaksanakan amanah yang dipercayakan kepadanya. Pemimpin tipe ini dalam menjalankan tugasnya selalu berpijak pada amar ma’ruf nabi munkar (mengajak kebaikan dan mencegah kejahatan).

Pemimpin yang beragama dalam arti beriman dan bertaqwa haruslah seorang yang bermoral, dan tandanya jika orang itu bermoral dia taat pada hukum. Dalam kenyataan kehidupan sehari-hari SDM yang beragama itu belum tentu beriman dan bertaqwa, sehingga dia sesungguhnya tidak bermoral dan melanggar hukum.

Unsur SQ sangat penting bagi seorang pemimpin sebab pemimpin yang memiliki SQ atau kecerdasan spiritualnya tinggi akan membuat keberadaan dirinya bermanfaat bagi orang lain, bukan sebaliknya memanfaatkan orang lain. Pada hakekatnya seorang pemimpin itu akan diminta pertanggungjawabannya bukan oleh orang yang memberi amanah tetapi terutama tanggung jawab kepada Allah SWT. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang menyatakan :

“Setiap kamu adalah pemimpin. Dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawabannya terhadap apa yang dipimpinnya” (H.R.Bukhari dan Muslim).

Cirri pemimpin Yang religius adalah antara lain mempunyai rasa kasih saying antara sesamanya sebagia pertanda seorang yeng beriman. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang menyatakan :

“Belumlah sempurna iman seseorang, apabila ia tidak menyayangi orang lain sebagaimana ia menyayangi dirinya sendiri” (H.R.Bukhari dan Muslim).

Untuk meningkatkan kecerdasan spiritual (SQ) dapat ditempuh dengan jalan menghayati serta mengamalkan agama yaitu rukun iman dan rukun islam.

Sebagaimana halnya Napza dapat melemahkan kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan kreativitas (CQ), maka demikian pula halnya dengan kecerdasan spiritual (SQ). orang yang mengkonsumsi Napza akan mengalami gangguan mental dan perilaku sebagai akibat fungsi pikir alam perasaan dan perilakunya menjadi error. Salah satu gejalanya adalah melemahnya iman dan yang bersangkutan tidak lagi menkjalankan ibadah agama ; sehingga ia tidak mampu membedakan mana yang haram dan mana yang halal.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: